Bolehkah Perempuan yang Sedang Haid Membaca Al-Quran? Ini dia Solusinya

Assalamualaikum wr wb ukhti yang dirahmati Allah. Kali ini saya akan membahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang nyaris semua perempuan pernah mempertanyakannya, termasuk saya. Sehingga hari ini saya agak sibuk cari referensi dan jawabannya. Disini akan diuraikan secara singkat. So, Let's see.

Melaksanakan amalan-amalan di Bulan Ramadhan sangat istimewa. Sebab pahala akan digandakan berkali-kali lipat. Namun, hampir setiap perempuan di masa subur pasti tidak bisa menjalankan ibadah puasa secara penuh. Dalam sebulan ada waktu-waktu ia mengalami haid, otomatis diharamkan mendirikan shalat dan berpuasa sekira 3 hingga 7 hari bahkan lebih.

Di bulan Ramadhan kita seringkali berlomba-lomba membaca dan mengkhatamkan Alquran. Namun, sekali lagi bahwa perempuan punya waktu-waktu dimana ia terbatasi dalam menjalankan ibadah, sehingga harus lebih 'lincah' membaca Al-Quran terkhusus di Bulan Ramadhan penuh rahmat.

Nah, untuk ukhti-ukhti tercinta yang dirahmati Allah. Dan sekiranya akhi-akhi yang punya mahram perempuan dan dipertanyakan padamu. Berikut solusi yang InsyaAllah baik ketika menghadapi hal ini.

1. Tidak menyentuh mushaf secara langsung ketika hendak membaca
Dalil yang menunjukkan larangan untuk menyentuh mushaf:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Dalam keadaan suci di sini bisa berarti suci dari hadats besar dan hadats kecil. Haid dan nifas termasuk dalam hadats besar.

Lalu.. Jika dilarang menyentuh Al Quran dalam keadaan haid, lalu bagaimana dengan membaca?

Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama -yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, sekali lagi seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh mushaf Al Qur’an,maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci.

2- Membaca Al Quran terjemahan

Mushaf berarti seluruhnya berisi ayat Al Quran tanpa ada terjemahan. Namun kalau yang dibaca adalah Al Quran terjemahan, itu tidak termasuk mushaf.

Jika yang disentuh adalah Al Qur’an terjemahan dalam bahasa non Arab, kitab atau buku seperti itu disebut tafsir sebagaimana ditegaskan oleh ulama Malikiyah. Oleh karena itu tidak mengapa menyentuh Al Qur’an terjemahan seperti itu karena hukumnya sama dengan menyentuh kitab tafsir. Akan tetapi, jika isi Al Qur’annya lebih banyak atau sama banyaknya dari kajian terjemahan, maka seharusnya tidak disentuh dalam keadaan berhadats.

Jadi, kesimpulannya. Untuk mengambil langkah aman, lebih baik siapkan kain bersih sebagai hijab. Agar kita sebagai perempuan yang sedang berhadats, tidak secara langsung menyentuh mushaf Al-quran yang suci.

Oh yah. Jangan lupa untuk ukhti dan akhi yang dirahmati Allah Swt. ketika hendak membaca Al-Quran sebaiknya dalam keadaan wudhu sebagai salah satu adab membaca Al-Quran.

Wallahu a'lam.

__________
Referensi dikutip dari beberapa sumber. Afwan jika ada kekeliruan dan mohon diluruskan.

Salam ♡

Ra•

Komentar