Pages

Rabu, 10 Juni 2015

Pelajaran dari Sebuah Cermin



Masih selalu terngiang dalam ingatanku pada dongeng masa kecil tentang cermin ajaib, milik ratu yang sangat jahat. Setiap hari, dengan bangganya sang ratu berkutat di depan cermin, menanyakan pertanyaan yang sama. “Siapakah perempuan paling cantik di dunia wahai cermin ajaib?” Bertahun-tahun didapatinya jawaban memuaskan, yaitu sang ratu lah perempuan paling cantik di dunia. Namun, tiba suatu saat lahir seorang putri raja, namanya Putri Salju, dan predikat itu tak lagi diucapkan cermin ajaib untuk sang ratu. Ketika diutarakan pertanyaan yang sama, cermin ajaib dengan lantang mengucapkan bahwa Putri Salju lah perempuan paling cantik di dunia. Sang ratu pun murka. Dilakukannya segala cara untuk menyingkirkan Putri Salju.
Meski hanya sebuah dongeng, setidaknya alur yang digambarkan dalam kisah ratu dan Putri Salju, sedikit banyak kita dapat mengetahui gambaran sifat cermin. Ia selalu berkata jujur, polos dan apa adanya, tak mengurangi maupun melebihkan. Apa yang dilihat di dalam cermin itulah gambaran sebenarnya. Cermin yang kita gunakan setiap harinya adalah tool atau alat untuk melihat fisik kita secara menyeluruh.  Apa yang dilihat orang lain pada diri kita dapat pula kita lihat secara utuh.
Kita mungkin tak bisa membayangkan, bagaimana hidup tanpa sebidang cermin. Kita tak dapat mengukur sejauh mana kerapian kita mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa benda yang ditemukan oleh Justus von Liebig tersebut.
Hampir setiap hari tak ada orang yang tidak melewati harinya dengan bercermin. Meski benda tersebut terlihat sederhana namun manfaatnya luar biasa. Dia menyempurnakan kita dihadapan orang lain. Bayangkan saja, jika cara untuk melihat diri kita adalah hanya dengan menggunakan mata secara langsung, maka bola mata harus keluar dari tempatnya demi melihat diri sendiri. Dengan adanya cermin, maka tak ada kekhawatiran yang dirasakan tatkala keluar rumah, meskipun apa yang kita lihat terkadang tak memuaskan, paling tidak kita tahu kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita. Tak hanya bermanfaat secara langsung, manfaat lainnya adalah banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah cermin.
Namun, cermin yang hampir setiap hari kita gunakan tak bisa mengukur diri kita secara non fisik, misalnya kepribadian, mental dan karakter. Lalu, cermin apa yang dapat digunakan untuk melihat diri kita secara non fisik? Jawabannya yaitu orang-orang di sekitar kita, terpenting adalah seorang sahabat.  
Penilaian, pendapat, pemahaman sahabat dalam melihat bagaimana diri kita adalah cermin kehidupan. Penilaian terburuk pun sejatinya harus diterima. Namun, penilaian cermin kehidupan kita tak lantas membuat kita mengerdilkan diri atau malah mengangkat leher. Mereka mampu menjadi penyemangat dalam memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Atau menjadi alat agar kita senantiasa bertawaddhu atau rendah hati.
Dengan adanya sahabat sebagai cermin kehidupan, kita bisa lebih sering mengintrospeksi diri, mengevaluasi apa yang telah terjadi. Bagaimana kita menata hidup, memperbaiki diri  menjadi lebih baik lagi. Karena sahabat yang baik adalah dia yang berkata jujur dan apa adanya pada kita. Baik atau pun buruk yang dikatakan sahabat semestinya memang harus diterima layaknya cermin menyampaikan pada orang yang bercermin.
Akhirnya, saya katakan, cermin terbaik sebenarnya ada tepat di samping kita. Mengatakan apa yang dia lihat pada diri kita apa adanya, dengan kepolosan dan kejujuran, tanpa takut, tanpa dendam. Tujuannya hanya satu, dia ingin melihat kita menjadi lebih baik lagi. Hanya saja sulit menemui cermin terbaik itu, bahkan kita sendiri tak bisa mengukur, apakah kita sudah jadi cermin kehidupan terbaik bagi orang terkasih kita?(*)


Kamis, 04 Juni 2015

‘Mencuri’ Pesona Tanah Haram


Oleh: Radiah Annisa N
Ada seorang anak perempuan berusia 16 tahun, menulis satu puisi tentang rindu. Dia rindu meski belum pernah bertemu. Tiga tahun selanjutnya, ditulis lagi rindu itu di buku 100 impian hidupnya. Setiap melihat puisi dan impian yang sama, ia selalu tersenyum simpul. Tak pernah ia duga, ia menuntaskan rindunya dan menceklis daftar impiannya lima tahun kemudian. Daftar impian hidup dan puisinya berjudul “Merindu Kakbah Baitullah”. Dan anak perempuan itu adalah aku.

Ketika masih berstatus siswa SD, SMP hingga SMA beberapa tahun lalu, pelajaran pendidikan Agama Islam yang membahas tentang Rukun Islam tak pernah terlewatkan. Mataku selalu berbinar jika disebutkan Rukun Islam terakhir yaitu “naik haji bagi yang mampu”. Juga ketika pada pelajaran Ilmu Sosial tentang 7 keajaiban dunia, aku selalu takjub. Borobudur di Indonesia, Eiffel di Paris, Taj Mahal di India, Menara Pisa di Inggris, Tembok Besar di China, Colloseum di Roma dan Kakbah di Arab Saudi. Alhamdulillah, berkat rezeki dari Allah dan doa yang diijabah, aku telah mengunjungi Borobudur di tahun 2010 dan Kakbah pada Maret 2015 untuk melaksanakan haji kecil atau umrah.

Perjalan kali ini sangat berbeda dari perjalanan biasanya. Perjalanan religi di Tanah Suci untuk pertama kali tak akan pernah terlupakan.  Rabu, 18 Maret 2015 pukul 02.00 dini hari, kami -12 jamaah umrah- bertolak dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta bersama maskapai penerbangan Lion Air. Tak cukup lama, 2 jam duduk di pesawat dan akhirnya menginjakkan kaki di Jakarta. Transit tak hanya di Jakarta, kami melanjutkan penerbangan dengan maskapai Air Asia menuju Bandara Changi di Singapura untuk transit kedua. Sebagai warga Makassar, untuk sampai di Negara Timur Tengah kami harus melakukan dua kali transit, Jakarta dan Singapura.

Selanjutnya, perjalan sesungguhnya menuju tujuan utama dimulai. Perjalanan udara yang ditempuh selama 6 jam tak terlalu lama terasa bersama maskapai penerbangan Saudi Arabia. Pelayanan yang bagus oleh pramugari serta seat yang dilengkapi TV membuat kami lumayan betah.      

Pesawat mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Kota Jeddah, salah satu kota di Arab Saudi. Sampai di kota ini merupakan suatu kesyukuran, saya tak pernah berpikir akan menginjakkan kaki di sini. Suasana dan orang-orang yang sangat berbeda dengan negara kami. Dari kota Jeddah kami langsung melanjutkan perjalanan ke kota Madinah.

Madinah Almunawwarah, Tanah yang Tak Pernah Sepi

Menempuh perjalan 6 jam menggunakan bus kami kemudian memasuki kota Madinah, Kamis, 19 Maret 2015. Hotel-hotel bertingkat dan Masjid Nabawi menyambut kami. Hawa sejuk dan hati yang berdesir langsung menyergap saat keluar dari bus. Hotel Al-Andalus tempat penginapan selama 5 hari di Madinah berada tepat di depan Mesjid Nabawi. Sebuah atap otomatis berbentuk payung yang terbuka di kala siang dan tertutup pada malam hari di pelataran Masjid Nabawi sangat mempesona. Di depan mesjid, ada sebuah tugu dengan jam besar diatasnya, yang dikelilingi ratusan burung merpati. Menurut kisah, burung merpati yang berada di sekitar Madinah dan Mekkah adalah keturunan burung merpati yang pernah menolong Rasulullah dan sahabat di Jabal Tsur, Mekkah, ketika meraka dikejar oleh kaum kafir Quraisy.

Semua umat muslim dari seluruh negara di dunia mungkin terkumpul di Tanah Haram ini Mulai dari kulit paling terang hingga paling gelap, tubuh paling tinggi hingga paling pendek. Tanah Haram menjadi gelar untuk dua kota suci Madinah dan Mekkah. Sebab dua kota tersebut haram untuk diinjak oleh non-muslim.

Berada di tanah yang selalu dijaga beribu malaikat ini begitu istimewa. Setiap masuk waktu shalat, kita harus berangkat lebih awal untuk mendapatkan shaf di dalam mesjid, sebab terlambat sedikit saja, kita akan mendapat shaf di pelataran bahkan di jalanan umum depan mesjid. Berbondong-bondong jamaah menuju mesjid, seluruh toko ditutup dan tak boleh ada transaksi jual-beli.

Hari selanjutnya di Madinah, kami berziarah atau mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota itu. Kunjungan pertama yaitu Raudah, Raudah adalah sebuah tempat berukuran sekitar 22x15 meter di dalam Mesjid Nabawi dengan permadani berwarna hijau, letaknya di antara rumah Rasulullah –kini adalah makam Rasulullah dan dua sahabatnya, Abu Bakar serta Umar bin Khattab- dan mimbar Rasulullah. Di dekat mimbar terdapat tempat azan yang pernah digunakan Bilal bin Raba. Jamaah umrah akan menyempatkan ke Raudah. Tempat yang paling afdhal unjuk memanjatkan doa dan diyakini diijabah oleh Allah. Ziarah selanjutnya kami mengunjungi Museum Asmaul Husna, kemudian berkunjung ke mesjid pertama yang di bangun Rasulullah yaitu Mesjid Quba, kami juga melanjutkan ziarah ke kebun kurma dan Jabal Uhud.

Mekkah Almukarramah, Tumpuan Kiblat Sejagad Raya

Tak terasa lima hari kami berziarah di Madinah. Kami harus berangkat ke Mekkah untuk melaksanakn umrah, yaitu ihram. Perempuan yang akan melaksanakan ihram memakai baju dan kerudung putih, menutup seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Sedangkan laki-laki memakai dua helai kain penutup, satu untuk menutup aurat bagian bawah dan yang lainnya diselendangkan. Sebelum berangkat ke Mekkah, terlebih dahulu kami mengunjungi Mesjid Bir’Ali untuk mengambil niat umrah. Perjalanan panjang dari Madinah ke Mekkah ditempuh lagi selama 6 jam. Selama perjalanan kalimat talbiyah tak pernah terhenti terucap dari bibir jamaah.

“Labbaikallahummalabbaik labbaikala syarikalaka labbaik innalhamda wannikmata lakawalmulk la syarikalah.”

Pukul 04.00 pagi, sampailah kami di kota Mekkah. Hotel Zam-Zam Pullman, sebuah hotel terbesar di Mekkah menjadi tempat penginapan kami. Hotel tersebut tepat berada di depan masjidil haram. Menurut sejarah, tanah berdirinya Hotel tersebut merupakan tanah dari istri pertama Rasullullah, yaitu Khadijah.
Setibanya di Mekkah, kami langsung ke Masjidil Haram. Untuk pertama kalinya kulihat Kakbah Baitullah, tumpuan kiblat sejagad raya yang selama ini tempat menghadapku jikalau sedang shalat, sekarang berada di depanku, kulihat dengan jelas dengan kepala mataku sendiri. Sungguh nikmat yang sangat luar biasa dapat menatap Kakbah Baitullah yang selama ini kurindukan.

Saatnya melaksanakan tawaf, yaitu mengelilingi Kakbah 7 kali putaran. Lalu sa’i yaitu berjalan dari Bukit Safa ke Bukit Marwah 7 kali. Kemudian tahallul yaitu mencukur rambut, yang dilakukan tepat di atas Bukit Marwah. Kedua bukit tersebut kini telah terjamah modernitas.

Hari-hari di Mekkah sangat indah, waktu hidup dihabiskan beribadah, berkali-kali tawaf adalah kesenangan dan kesejukan dalam hati. Mengelilingi Kakbah dan berjalan antara Safa dan Marwah berkali-kali merupakan sesuatu yang sangat tentram nan ajaib. Meski badan lelah berdesak-desakan dengan jamaah lain yang tak pernah ada habisnya. Namun, kemauan hati selalu ada, kita seakan men-charger diri kita.

Hari selanjutnya adalah umrah sunnah, kali ini kami pergi ke masjid Je’rana untuk mengambil niat umrah. Sebelum sampai kesana kami, terlebih dahulu mengunjungi Padang Arafah. Di Arafah terdapat Jabal Tsur dan Jabal Rahmah. Menurut kisah Jabal Rahmah adalah tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah terpisah sekian lama.

Waktu terasa berjalan cepat, lima hari di Madinah dan lima hari di Mekkah terasa singkat. Beribadah di tempat kelahiran para nabi begitu menyenangkan dan menentramkan. Hari terakhir di Madinah dan Mekkah kami menyempatkan berburu cendramata. Jangan khawatir, berada di dua kota ini, kita bisa melakukan transaksi dengan pedagang menggunakan Bahasa Indonesia. Juga tak perlu takut hilang, sebab banyak petugas yang akan menolong, mereka pun paham Bahasa Indonesia. Satu lagi yang membuatku takjub, tak usah takut kehausan sebab di seluruh sudut di sekitar dan di dalam Mesjid nabawi maupun Masjidil Haram disediakan air zam-zam yang bisa diambil secara gratis dan tidak pernah habis.

Akhirnya, hari yang akan membuat kami rindu Tanah Haram pun datang. Setelah 10 hari melaksanakan seluruh rangkaian umrah dan ziarah. Kami harus kembali ke tanah air, perjalanan pulang dari Mekkah ke Jeddah melalui jalur darat, di Jeddah kami mengunjungi Mesjid Terapung yang berada di bagian tepi atas Laut Merah. Perjalanan pulang kami dari Negeri Arab, transit kembali ke Singapura, kemudian Jakarta, dan akhirnya sampailah kami ke Makassar.

Ada rasa rindu yang amat sangat ingin kembali lagi ke tanah yang sangat dimuliakan Allah. Tanah tempat para Nabi Allah lahir dan wafat, tanah dengan pasir gurun yang gersang namun menyejukkan hati. Kucuri semua moment di tanah suci ini. Kuabadikan pesonanya dalam lensa, semoga suatu saat dapat berjumpa lagi, lagi dan lagi. Kerinduan yang tiada habisnya. (*)

Ditulis di Maros-Makassar, dan diselesaikan di Ruang Arsip PK identitas Unhas
April-Juni 2015

Welcome to my blog

Bismillah

tentang saya

Foto Saya
maros, sulawesi selatan, Indonesia
Limited Edition, Simple

friend

Share It